Blendid learning – disebut juga dengan Hybrid Learning – adalah model pembelajaran yang menggabungkan tatap muka langsung antara guru dan siswa, dengan pembelajaran online.

Ada tiga jenis pembelajaran yang bisa diterapkan oleh sekolah, yaitu: face to face learning, online learning, dan blended / hybrid learning.

Face to face learning, adalah model pembelajaran konvensional, yaitu tatap muka langsung antara guru dan siswa di kelas. Seluruh aktivitas pembelajaran, mulai pemberian materi, instruksi, pengerjaan tugas, dan penilaian dilakukan di dalam kelas. Pembelajaran ini sama sekali tidak menggunakan jaringan internet.

Online Learning, yaitu model pembelajaran yang seluruh aktivitasnya, dilakukan secara online. Semua tahap pembelajaran, mulai pemberian materi, pemberian instruksi, interaksi antar siswa dan guru, pengerjaan tugas dan penilaian, disampaikan melalui jaringan internet. Model pembelajaran ini, menghilangkan unsur tatap muka langsung yang ada pada pembelajaran konvensional.

Hybrid / Blended Learning yaitu gabungan antara kedua model pembelajara itu. Selain tatap muka langsung di kelas, siswa juga belajar secara online.

Konsep Blended learning

Pembelajaran Blended Learning, mempunyai empat (4) konsep, yaitu:

Pertama, Terjadi integrasi antara pembelajaran tatap muka secara konvensional, dengan pembelajaran jarak jauh. Guru dan sisa menggunakan sumber belajar online, serta berkomunikasi dengan berbagai macam pilihan platform.

Kedua, menggunakan berbagai macam teknologi pembelajaran yang bisa dimanfaatkan oleh siswa untuk belajar secara mandiri. Sumber belajar bisa melayani sebagian besar gaya belajar siswa. Misalnya berbentuk video, film, gambar, podcast, maupun ebook.

Ketiga, merupakan kombinasi dari berbagai macam pendekatan pembelajaran. Baik menggunakan teknologi, maupun tanpa teknologi. Pendekatan pembelajaran yang bisa digunakan antara lain: behaviorisme, konstruktivisme, dan kognitivisme.

Keempat, terjadi penggabungan antara teknologi pembelajaran dengan tugas secara aktual. Tugas-tugas yang diberikan kepada siwa, bisa berbentuk digital dan dikerjakan secara online. Namun ada pula tugas yang disampaikan pada saat tatap muka. Misalnya berdiskusi, praktik, presentasi, dan sebagainya.

Jadi, ada 3 komponen dalam blended learning: Pembelajaran Online, Pembelajaran tatap muka, dan belajar mandiri.

Kelebihan Model Blended Learning

Meningkatkan efisiensi

Penggunaan blended learning akan memberikan banyak keuntungan. Baik bagi guru, maupun siswa. Guru tidak memerlukan waktu yang lama untuk menyampaikan suatu materi. Siswa akan mempelajari materi secara online. Sedangkan tatap muka di kelas, dipergunakan untuk mendiskusikan materi dan memecahkan masalah yang ditemui siswa ketika belajar. Metode ceramah, akan berkurang. Tentu ini lebih meringankan bagi guru. Sedangkan bagi siswa, lebih fleksibel dalam belajar. Siswa bisa mengatur waktu belajarnya, di mana saja dan kapan saja.

Membangun kolaborasi

Blended Learning memungkinkan siswa untuk meningkatkan kemampuan kolaborasinya. Ketika tatap muka di kelas, mereka akan berinteraksi dengan siswa lain, dan berkolaborasi untuk membahas dan memecahkan persoalan ketika belajar mandiri secara online.

Meningkatkan komunikasi

Kemampuan komunikasi akan bertambah, ketika waktu tatap muka lebih banyak dipergunakan untuk berdiskusi dan presentasi. Waktu tatap muka tidak akan terbuang untuk menjelaskan teori dan menerangkan sebuah konsep oleh guru. Siswa sudah mempelajari teori dan berlatih secara online. Pertemuan tatap muka hendaknya dimanfaatkan dengan maksimal untuk melatih keterampilan komunikasi siswa yang pasti akan mereka butuhkan di era global dan serba digital.

Meningkatkan kreatifitas

Blended Learning akan mampu meningkatkan kreativitas siswa. Ketika guru memberikan instruksi untuk mencari informasi dan meminta siswa untuk mempelajarinya secara online, akan mendorong siswa untuk lebih kreatif. Siswa akan mencari sumber-sumber belajar yang relefan dan sesuai dengan gaya belajarnya. Siswa akan memilih dan melakukan analisis terhadap semua informasi yang diterimanya. Bahkan mungkin bisa menggabungkan beberapa informasi dari berbagai sumber belajar, dan menyusunnya menjadi sebuah pengetahuan baru yang menarik.

Tantangan dalam Menerapkan Blended Learning

Namun dalam menerapkan blended learning di sekolah, tidaklah semudah yang dibayangkan. Ada beberapa tantangan bagi sekolah, yang harus diatasi, antara lain:

Sarana dan prasarana sekolah

Sekolah hendaknya menyesuaikan sarana dan prasarana yang ada, untuk mendukung penerapan Blended Learning ini. Adanya saluran internet, server, dan aplikasi Learning Management System, merupakan kebutuhan standar yang diperlukan. Perlengkapan ini dibutuhkan untuk pembelajaran secara online. Masalahnya, tidak semua sekolah berada dalam jangkauan jaringan internet. Sekolah-sekolah inilah yang memerlukan perhatian khusus. Pengembangan jaringan internet secara luas, sangat diperlukan.

Literasi digital guru

Siswa yang kita didik adalah generasi z, yang lahir dan tumbuh di era digital. Mereka sejak kecil sudah terbiasa menggunakan dan mengoperasikan gawai. Sedangkan kebanyak guru, lahir di era generasi X, bahkan bahkan generasi sebelumnya. Ada kesenjangan dalam kemampuan penggunaan teknologi. Maka guru harus mengurangi kesenjangan ini, supaya tidak tertinggal oleh siswa. Guru hendaknya selalu mengupgrade kemampuannya dengan cara mengikuti pelatihan-pelatihan, terutama yang berkaitan dengan penggunaan teknologi dalam pembelajaran.

Sarpras siswa

Tantangan lain yang ditemui adalah perlengkapan yang dimiliki oleh siswa. Saat pembelajaran tatap muka / offline, mungkin siswa tidak menemukan banyak masalah. Tapi ketika pembelajaran online, peralatan mereka ada yang kurang memenuhi standar. Siswa tentu membutuhkan jaringan internet untuk mengakses materi atau sumber belajar. Sementara jaringan di wilayah mereka kurang mendukung, bahkan tidak tersedia. Ini juga merupakan tantangan. Namun sebenarnya siswa bisa memanfaatkan warung internet / warnet.  Itu pun jika ada di dekat tempat mereka.

Pendampingan orang tua

Blended Learning bagi siswa tingkat pendidikan dasar, mungkin masih membutuhkan pendampingan orang tua. Terutama untuk membimbing dan mengarahkan ketika siswa belajar mandiri secara online. Pendampingan ini penting, agar siswa bisa mendapatkan sumbr-sumber belajar yang valid dan tidak mengakses konten dan informasi yang tidak bermanfaat bahkan sesat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *